Kamis, 30 September 2010

Asal Nama Kota Salatiga dan Boyolali

Asal Usul Kota SALATIGA
ceritanya ketika Bupati semarang disuruh oleh Sunan Kalijaga untuk memperdalam ngelmu agama sang bupati tersebut dilarang membawa perhiasan yang ada untuk menyepi dan merenungi akan kehidupanya. Sang bupati disilahkan untuk berjalan ke timur untuk mencari tempat menyepi oleh njeng Suan Kalijaga (sebelumnya sang bupati di ceritakan adalah bupati yang sombong karena kekayaanya…nama sang bupati tersebut adalah Kyai Pandan Arang  nah sang Kyai Pandan Arang dihukum karena kesombonganya untuk menyepi di suatu tempat. Syaratnya yaitu tadi… ngak boleh membawa perhiasan. Nah sang Kyai Pandan Arang pergi dengan Istrinya yang tentu saja namanya adalah Nyai Pandan Arang ditemani seorang Abdi dalemnya. Karena yang telah mendapat pencerahan waktu itu hanya sang Kyai Pandang Arang sang Nyai Pandan Arang belom maka sang Nyai pandan Arang takut kalo jatuh miskin. Maka sang Nyai Pandan Arang memerintahkan Pembantunya untuk membawa perhiasan yang disembunyikan ke dalam tongkat yang dikasih lobang. Sampe dijalan Sang kyai dicegat leh sekelompok begal eh begall itu bahasa Indonesianya apa Ya? Anu Garong eh whmmm Rampok ya Rampok… karena sang Kyai merasa ngak bawa apa-apa maka sang kyai tenang saja.
….. terus perampoknya ngak percaya karena meelihat ketakutan ada pada wajah Nyai Pandan Arang dan Pembantunya yang dengan erat memegangi tongkanya. Kalo ketakutan berarti bawa apa apa nih… dan betul ketika tongkatnya dibanting munculah perhiasan……..
Waktu itu kemudian munculah Sunan Kalijaga ….. yang menyelamatkan Rombongan Kyai Pandan Alas… eh Arang ding…. kemudian gerombolan Rampokpun dikalahkan dan sadar akhirnya… sadarnya ketika itu Sang Sunan Kalijaga berkata begini…. Weh kelakuan manusia kok kayak kelakuan wedus alias kambing… dan kemudian wajah ketua perampokpun berubah menjadi kambing. Wajahnya akan berubah ketika sudah mengamalkan kebaikan… akhirnya pimpinan gerombolan mengabdi pada Sang Kyai Pandan Arang. Untuk menandai itu maka sang Kyai Pandan Arang berkata… besok kalo tempat ini jadi maju… akan kuamai daerah ini dengan nama SALA TIGA . Yaitu kesalahan bertiga…. Dirimu Nyai masih ngotot membawa perhiasan, kamu (sambil nunjuk sang rewang) karena membatu istriku untuk mebawa perhiasan. Dan diriku sendiri yang ngang ngecek pas kita berangkat. Dan Kyai Pandan Arangpun melanjutkan perjalanan setelah pamit pada Sunan Kalijaga…. Diikuti dengan Istri, pembantu atau rewang dan gerombolan perampok, dan ketua gerombolan perampok karena berkepala domba akhirnya namanya berunbah menjadi syech domba , begitulah legendanya

Asal Usul Kota BOYOLALI
Setelah melakukan kesalahan dan melanjutkan perjalanan ke timur, dijalan sang Nyai Pandan Arang menyesali mengapa harus mebawa perhiasan yang banyak… beliau ingin melupakan masalah perampokan yang terjadi disalatiga kemaren…. Beliau pun berguman sepanjang jalan … MBOYOLALI YA MBOKYOLALI YA… (dalam bahasa Indonesia semoga lupa. Semoga lupa) dan terdengar oleh Kyai Pandan Arang. Maka berkatlah sang Kai pandan arang : mengko yen kene iki dadi rejo tak jenengi kutha iki kutho mboyolali (dalam bahasa Indonesia kira kira begini: nanti kalo daerah ini menjadi rame dan menjadi kota, diriku namakan kota ini kota boyolali)
Dan karena masih agak jengkel dengan Nyai Pandan Arang maka sang Kyai Pandan Arang mepercepat langkahnya….. dan karena ketinggalan Nyai pandan alas bertanya pada penduduk sekitar dimanakah Kyai Pndan Arang? Ooo teras… kata penduduk sekitar… (teras adalah bahasa halus untuk terus dalam bahasa jawa?) nah kalo itu menjadi nama kota kecamatan dimana diriku dilahirkan….
Dan akhirnya rombongan Kyai pandan Arang akhirnya bermukin di klaten, dan tepatnya di Tembayat terdapat makam Syech Domba yang kepalanya sudah berwujud manusia lagi… dah gitu deh critanya selesai deh

ANEKA CORAK BATIK NUSANTARA

Batik berasal dari bahasa jawa yaitu dari kata "amba" yang artinya menulis dan "titik" yaitu titik-titik, sehingga kemudian menjadi ambatitik-ambatik-mbatik-batik. Betul, pada awalnya batik semuanya dikerjakan secara manual yaitu dengan menulis menggunakan tangan sehingga dikenal sebagai batik tulis.

Kesenian membatik sudah dimulai sejak zaman Majapahit, bekas jejaknya dapat ditemui di Mojokerto dan Tulungagung. Mojokerto sebagai Ibukota kerajaan Majapahit dan Tulungagung yang dulunya bernama bonorowo (karena memang dahulu sekelilingnya adalah rawa-rawa) dipimpin oleh Adipati Kalang, yang dalam kisahnya tidak mau tunduk kepada Majapahit, sampai pada akhirnya tewas dibunuh, dan saat itulah perajin batik dari Majapahit mulai mengenalkan seni batik di kota bonorowo yang sekarang bernama Tulungagung.

Batik dari sisi geografi dibagi menjadi 2 yaitu batik pesisir dan non pesisir. Batik non pesisir adalah batik tradisional yang umumnya masih memegang pakem. Batik-batik ini banyak kita jumpai di daerah Solo dan Jogjakarta. Batik-batik ini dahulunya kebanyakan dipakai oleh kalangan terbatas saja (kerabat keraton) dan untuk acara tertentu harus menggunakan corak tertentu pula. Acara perkawinan, kain batik yang digunakan harus bermotif Sidomukti dan/atau Sidoluhur. Sedangkan untuk acara mitoni (7 bulanan), kain batik yang boleh digunakan adalah bermotif Ceplok Garuda dan/atau Parang Mangkoro, begitu seterusnya untuk acara-acara upacara adat yang lain.

Batik pesisir memiliki kebebasan berekspresi, yaitu corak-corak tidak memiliki pakem, umumnya berwarna cerah/berani dan motifnya sangat kaya dan cantik-cantik. Batik pesisir ini telah berakulturasi dengan budaya asing, seperti motif bunga-bunga dipengaruhi oleh India dan Eropa (bunga Tulip), warna merah dipengaruhi oleh China sekaligus membawa motif burung phoenix, kupu-kupu, dst. Sedangkan motif-motif hewan laut (kerang, bintang laut dsb) adalah motif asli batik tulis pesisir nusantara. Batik pesisir ini dapat kita temui di daerah Pekalongan, Cirebon, Lasem, Tuban, TanjungBumi-Bangkalan-Madura dan daerah Madura pada umumnya.

Dan Tahukah Anda ? bahwa orang-orang di daerah pesisir ini dahulunya membatik hanya untuk keisengan belaka untuk menghilangkan kejenuhan seperti di daerah Tuban, para Ibu-Ibu membatik dilakukan pada masa menunggu musim panen, sedangkan ketika musim panen, semua akan turun ke sawah. Untuk daerah Cirebon dan TanjungBumi lain lagi, mereka membatik karena kangen menunggu suaminya pulang dari melaut :)

Batik dari sisi cara pembuatannya dibagi 4 yaitu batik tulis, batik cap, batik cetak dan batik print. Batik cap menggunakan alat dari tembaga yang telah dipola dan nanti akan diceplok-ceplokkan ke atas kain yang telah disiapkan, batik cetak menggunakan alas (terpal/plastik) yang telah dipola yang nantinya akan dilekatkan ke kain yang telah disiapkan. Batik print menggunakan pola yang digambar di komputer, menyiapkan printer, tinggal enter, maka kain akan langsung dicetak dengan motif yang diinginkan (hmm...ternyata ini yang membunuh para perajin batik tradisional). Batik tulis seperti yang telah ditulis diawal, dipola, digambar, diwarnai semuanya secara manual menggunakan tangan dan digambar dengan sepenuh jiwa, maka tidak heran, seorang profesional pun hanya mampu menghasilkan satu lembar kain batik tulis (225 x 110 cm) paling cepat dalam waktu 1 minggu. Oleh karenanya, batik tulis itu mahal kalau hanya dilihat dari nominal uang yang kita keluarkan, tapi untuk sebuah karya seni, penghargaan terhadap daya kreasi yang telah dituangkan, nilai tersebut menjadi wajar dan bahkan lebih rendah dari value hasil karya yang telah dihasilkan (coba kita disuruh membatik tulis terus hasil karya kita dihargai 200.000............hmmm berani ga yaa ? :p)

Perbedaan mendasar lainnya, baik batik cap, batik cetak dan batik print pada umumnya bahan pewarnaan menggunakan bahan-bahan kimia, sedangkan batik tulis untuk bahan warnanya semuanya menggunakan bahan-bahan alami seperti kulit pohon, kayu pohon, bunga, buah, akar pohon, daun dsb. Karena pada dasarnya, setiap kulit/kayu/buah/akar pohon adalah unique, menghasilkan warna-warna tertentu. Subhanallah........

Dalam pembuatan Batik Tulis akan melalui beberapa tahapan proses :
1. Ngloyor, yaitu proses membersihkan kain dari pabrik yang biasanya masih mengandung kanji, menggunakan air panas yang dicampur dengan merang atau jerami.
2. Ngemplong, yaitu proses memadatkan serat-serat kain yang baru dibersihakan.
3. Memola, yaitu pembuatan pola menggunakan pensil ke atas kain.
4. Mbatik, yaitu menempelkan lilin/malam batik pada pola yang telah digambar menggunakan canthing.
5. Nembok, yaitu menutup bagian yang nantinya dibiarkan putih dengan lilin tembokan.
6. Medel, yaitu mencelup kain yang telah dipola, dilapisi lilin ke pewarna yang sudah disiapkan.
7. Ngerok/Nggirah, yaitu proses menghilangkan lilin dengan alat pengerok.
8. Mbironi, yaitu menutup bagian2 yang akan dibiarkan tetap berwarna putih dan tempat2 yang terdapat cecek (titik titik).
9. Nyoga, yaitu mencelup lagi dengan pewarna sesuai dengan warna yang diinginkan.
10. Nglorod, yaitu proses menghilangkan lilin dengan air mendidih untuk kemudian dijemur.

Proses pewarnaan, penghilangan lilin dapat dilakukan berkali-kali sampai menghasilkan warna dan kualitas yang diinginkan. Makanya kemudian ada Batik dengan istilah 1x proses, 2x proses, 3x proses. Batik Tulis 1x proses pun, dapat diselesaikan oleh ahlinya paling cepat dalam waktu 1 minggu, apalagi yang melalui 2x proses, 3x proses dan seterusnya, bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Jadi, saudaraku sebangsa dan setanah air, mari kita hargai hasil karya luhur para perajin batik nusantara, banggalah menjadi bangsa Indonesia yang rakyatnya telah dikaruniai akal budi, daya kreatifitas yang luhur melebihi bangsa-bangsa lain. Kita ubah image bahwa batik = kondangan dan kondangan = batik menjadi batik = pakaian nusantara dan batik = melestarikan budaya Indonesia dan batik = pakaian sehari-hari

Paket Bali Indonesia 5H2M

Bali Fun Tour (5 Hari 2 malam)

Hari ke-1
Berkumpul ditempat penjemputan, Perjalanan menuju Pulau Dewata, Makan siang dan malam enroute. Bermalam diperjalanan.
Hari ke -2
Pagi hari di harapkan sudah sampai di pulau Dewata, Bersih diri, makan pagi dan menikmati acara wisata di Tanah Lot, dan water sport di Tanjung benoa. Dilanjutkan ke obyek wisata Pantai Kuta dan Pabrik kata- kata Joger. Check in Hotel , makan malam dan acara bebas . . . .
Hari ke- 3
Setelah makan pagi, menuju ke obyek wisata belanja Krishna, dilanjutkan ke pantai sanur, makan siang di pantai sanur, dilanjutkan menuju ke sentral makanan khas bali. Kembali ke hotel, makan malam dan acara bebas . . . .
Hari ke- 4
Setelah makan pagi dan check out, menuju obyek wisata Danau Bedugul, makan siang sambil menikmati pemandangan keindahan danau bedugul. Makan malam enroute.
Hari ke- 5
Makan pagi enroute. Siang hari diharapkan sudah sampai di tempat penjemputan dengan membawa berjuta kenangan indah bersama SURYA WISATA . . . .

Fasilitas :

  • Bus Pariwisata AC, Audio Video, Reclining seat
  • Fery Ketapang-Gilimanuk PP
  • Asuransi Pariwisata
  • Mel, Tol dan Parkir
  • Snack saat pemberangkatan
  • Makan sesuai program
  • Tiket obyek wisata
  • Souvenir sesuai pilihan
  • Air Mineral selama perjalanan
  • Doorprize
  • Tour guide dan Guide local Selama di Bali

Harga Paket :
PAKET
HARGA
PESERTA (Minimal )
Fasilitas
Pelajar
Rp.525.000,-
 59 orang
Wisma   (4pax/room)
Standard
Rp.735.000,-
48 orang
Wisma   (2pax/room)
Executive
Rp.1.450.000,-
30 orang
Hotel  std **  (2pax/room)


CATATAN :

  1.  Start dan finish di hitung dari Pekalongan
  2.  Harga bersifat negosiable tergantung fasilitas & kebutuhan
  3.  Harga bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan
Ingin Berwisata ? Surya Wisata adalah solusinya.

Candi Borobudur, Jawa Tengah, Indonesia

"Candi Borobudur" 
keajaiban dunia ada di indonesia


Borobudur Temple
Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.


Nama Borobudur

Banyak teori yang berusaha menjelaskan asal nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja mataram dinasti Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra. Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa sansekerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli Borobudur.

Struktur Candi
Candi Borobudur memiliki struktur dasar punden berundak, dengan enam pelataran berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa.
Sepuluh pelataran yang dimiliki Borobudur menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapaikesempurnaan menjadi Buddha.
Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.
Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.
Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini.
Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja ThailandChulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.
Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.
Surya Wisata Pekalongan


Sumber Lengkap : Wikipedia




Rabu, 29 September 2010

Paket Yogyakarta Indonesia One Day

ONEDAY TOUR

·        Jogjakarta Magelang Tour
Sambil menikmati snack, perjalanan menuju obyek wisata Taman Kyai Langgeng untuk menikmati wahana rekreasi dan kesejukan kota Magelang  Kemudian setelah makan siang perjalanan dilanjutkan menuju obyek wisata Pantai Parangtritis Jogjakarta, untuk menikmati suset dipantai selatan jawa. Kemudian perjalanan dilajutkan menuju ke Jalan Malioboro untuk berwisata belanja. Kemudian acara wisata diakhiri dengan makan malam, sampai berjumpa kembali dengan Surya Wisata . . .

·        Jogjakarta Magelang II
Sambil menikmati snack, perjalanan menuju ke obyek wisata budaya Candi Borobudur untuk menikmati kemegahan bangunan yang menjadi kebanggaan kota magelang. Setelah makan siang kemudian menuju ke Pantai Depok untuk menikmati keindahan alam. Dilanjutkan menuju ke obyek wisata belanja di jalan Malioboro, dan acara wisata diakhiri dengan makan malam. Sampai bertemu lagi dengan Surya Wisata . . .

·        Full Jogjakarta Tour
Menikmati snack dalam Perjalanan menuju obyek wisata Monumen Jogja Kembali (MONJALI), untuk menyaksikan saksi bisu masa perjuangan kemerdekaan RI. Perjalanan dilanjutkan setelah makan siang, menuju ke museum Dirgantara Indonesia, museum pesawat terbang yang digunakan ketika perang kemerdekaan. Perjalanan dilanjutkan meuju ke Jalan Malioboro untuk berwisata belanja. Acara wisata diakhiri dengan makan malam. Sampai jumpa dengan Surya Wisata . . .

·        Fullday Jogjakarta Tour II
Sambil menikmati snack dalam perjalanan menuju ke gugusan pantai selatan yaitu Pantai Sundak untuk menikmati keindahan pasir putih yang belum banyak dikujungi wisatawan, kemudian setelah makan siang, obyek wisata selanjutnya adalah Pantai Baron maupun Pantai Kukup, keeksotisan alam yang sangat menawan ada di pantai ini. Dan obyek yang terakhir yaitu wisata belanja di Jalan Malioboro. Acara wisata ditutup dengan makan malam, sampai berjumpa kembali dengan Surya Wisata. . .

Rafting in Elo or Progo River, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia

Arung Jeram di Sungai Elo atau Progo


Starting point
ready to go

Kali ini Surya Wisata Menyediakan Paket Rafting/ Arum Jeram bagi anda anda yang doyan advanture atau sesuatu yang menantang. Petualangan mengarungi sungai sepanjang +/-12Km. Paket Rafting Ekonomis dengan fasilitas sebagai berikut:

1. Menginap 1 malam di desa wisata
2. Makan Malam, Makan Pagi dan Makan Siang Prasmanan
3. Rafting adventure
4. Coffee break 2x
5. Insurance + P3K

6. Rafting equipment + team.
7. Guide
8. Panj. Rute +/-12KM

Harga Rp, 300.000,-/org, Min Peserta 6 (atau kelipatan),

Ingin segera merasakan percikan air sungai Elo atau Progo?
Mail us surya_wisatapkl@yahoo.co.id


CATATAN: 1. Harga tidak termasuk penjemputan dari kota tempat tinggal anda.
                 2. Harga bisa berubah sewaktu waktu tanpa pemberitahuan.

>>>>>>>>>>>>>>>Paket Wisata Kami<<<<<<<<<<<<<<<<


asiknya percikan sungai elo




main ping pong dulu sebelum rafting
coffee break di rest area

makan siang setelah rafting

Selasa, 28 September 2010

Berbagai Pegunungan Wisata Indonesia yang Indah

1. Gunung Lawu
Gunung Lawu


Gunung lawu (3.265 m) terletak di pulau jawa, indonesia, tepatnya di perbatasan provinsi jawa tengah dan jawa timur. Status gunung ini adalah gunung api berstatus “istirahat” dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung lawu mempunyai kawasan hutan dipterokarp bukit, hutan dipterokarp atas, hutan montane, dan hutan ericaceous.
Gunung lawu memiliki dua puncak, puncak hargo dalem dan hargo dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi.Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat yang populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah tawangmangu, cemorosewu, dan sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir majapahit: Candi sukuh dan candi cetho. Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat praja mangkunagaran: Astana girilayu dan astana mangadeg. Di dekat komplek ini terletak istana giribangun, mausoleum untuk keluarga presiden kedua indonesia, suharto.

2. Gunung Jaya Wijaya
Jayawijaya

(seven summit) sebutan puncak yang juga terdaftar sebagai salah satu dari tujuh puncak benua.yang sangat fenomenal dan menjadi incaran pendaki gunung di berbagai belahan dunia. Puncak jayawijaya terletak di taman nasional laurentz, papua. Puncak ini diselimuti oleh salju abadi. Salju abadi di puncak jayawijaya merupakan satu dari tiga padang salju di daerah tropis yang terdapat di dunia. Di negeri kita yang dilalui garis khatulistiwa ini, menyaksikan adanya salju di indonesia tentunya sesuatu yang mustahil untuk bisa dimengerti. Carstenz pyramid (4884 mdpl) adalah salah satu puncak yang bersalju tersebut. Puncak tertinggi di asia tenggara dan pasifik ini terletak di rangkaian pegunungan sudirman. Puncak ini terkenal tidak hanya karena tingginya, tetapi juga karena terdapat lapisan salju di puncaknya.

3. Gunung Gamalama
Gunung Gamalama
Gunung gamalama merupakan salah satu gunung api yang ada di provinsi maluku utara. Selain gunung ini, masih ada gunung gamkonora di kabupaten halmahera barat, gunung ibu dan gunung dakona yang berada di kabupaten halmahera utara, dan gunung kiebesi di halmahera selatan. Gunung gamalama sendiri terletak di pulau ternate dan memiliki ketinggian sekitar 1.715 m dpl (di atas permukaan laut).
Selain pemandangan yang mempesona, para pendaki juga akan menemui tempat-tempat unik di gunung tersebut. Di antaranya adalah mata air dalam lekukan batu seluas loyang besar, yang oleh masyarakat setempat disebut dengan mata air abdas. Konon, mata air ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Maka, tak heran jika masyarakat ternate begitu mengkeramatkan mata air ini. Sehingga, ada aturan tertentu untuk mengambil air dari mata air abdas, yakni tidak boleh berebutan, dan tiap-tiap orang hanya diperbolehkan mengambil satu botol.

Selain mata air abdas, tempat menarik lainnya adalah kuburan leluhur masyarakat ternate, yang sudah berumur ratusan tahun. Belum diketahui, kenapa kuburan tersebut bisa ada di puncak gunung gamalama. Namun yang pasti, masyarakat ternate sangat mengeramatkan kuburan tersebut. Banyak masyarakat ternate yang mendaki gunung gamalama untuk berziarah di makam leluhur ini.

Gunung gamalama terletak di kota ternate, provinsi maluku utara, indonesia. Jika ingin melakukan pendakian, jalur pendakian dapat diakses dari beberapa desa di sekitarnya, seperti desa moya, desa malikurubu, dan desa akehuda. Namun, dari ketiga desa ini, jika ingin jalur pendakian termudah dapat melalui desa mayo.

4. Tangkuban Perahu
Tangkuban Perahu

kawah tangkuban perahu merupakan salah satu obyek wisata yang terletak di wilayah selatan kab. Subang, berada pada ketinggian 2084 m di atas permukaan laut. Keindahan alam dengan deretan kawah yang membentang dan kesejukan udara pegunungan yang khas serta hamparan gunung-gunung lain yang tinggi menjulang mengelilinginya dan banyaknya koleksi tumbuh-tumbuhan serta tanaman khas hutan tropis yang tumbuh subur disekitar kawah, menjadikan gunung tangkuban perahu sebagai tujuan wisata yang menarik di kabupaten subang.
Dilihat dari kota bandung, gunung tangkuban parahu memiliki bentuk yang unik menyerupai perahu terbalik (bahasa sunda : Tangkuban = terbalik, parahu = perahu). Bentuk unik dipercaya memiliki kaitan yang sangat erat dengan kisah legenda sangkuriang.
Menikmati pemandangan kawah ratu dari gunung tangkuban perahu, laksana melihat mangkuk raksasa yang sangat besar dan dalam. Saat cuaca cerah, lekukan tanah pada dinding kawah demikian juga dasar kawah dapat terlihat cukup jelas sehingga mampu menyajikan pemandangan panoramic yang spektakuler. Kemegahan kawah yang begitu luas dan dalam, setidaknya mampu memaksa pengunjung untuk sejenak terdiam dan takjub akan kebesaran hasil karya tuhan.


5. Gunung Agung

Gunung Agung adalah gunung tertinggi di pulau bali dengan ketinggian 3.142 mdpl. Gunung ini terletak di kecamatan rendang, kabupaten karangasem – bali.
Gunung agung adalah gunung berapi tipe stratovolcano, gunung ini memiliki kawah yang sangat besar dan sangat dalam yang terkadang mengeluarkan asap dan uap air. Dari pura besakih gunung ini nampak dengan kerucut runcing sempurna, tetapi sebenarnya puncak gunung ini memanjang dan berakhir pada kawah yang melingkar dan lebar.
Dari puncak gunung agung kita dapat melihat puncak gunung rinjani yang berada di pulau lombok di sebelah timur, meskipun kedua gunung tertutup awan karena kedua puncak gunung tersebut berada di atas awan, kepulauan nusa penida di sebelah selatan beserta pantai-pantainya, termasuk pantai sanur serta gunung dan danau batur di sebelah barat laut



suryawisatapkl,blogspot.com

Sejarah Tentang Lawang Sewu Semarang

Lawang Sewu merupakan sebuah Gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1903 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda Semarang yang dahulu disebut Wilhelmina Plein.

Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu). Ini dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang banyak sekali (dalam kenyataannya pintu yang ada tidak sampai seribu, mungkin juga karena jendela bangunan ini tinggi dan lebar, masyarakat juga menganggapnya sebagai pintu).

Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Jawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945) di gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan SK Wali Kota 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

Saat ini bangunan yang berusia 100 tahun tersebut kosong dan bereputasi buruk sebagai bangunan angker dan seram. Sesekali digunakan sebagai tempat pameran, diantaranya Semarang Expo dan Tourism Expo.Pernah ada juga wacana yang ingin mengubahnya menjadi hotel.Pada tahun 2007, bangunan ini juga dipakai untuk film dengan judul yang sama dengan bangunannya.

Asal Nama Purwodadi – Grobogan

Asal mula daerah (Purwodadi) itu disebut grobogan menurut cerita tutur yang beredar di daerah grobogan suatu ketika, pasukan demak di bawah pimpinan sunan ngundung & sunan kudus menyerbu ke pusat kerajaan mojopahit. Dalam pertempuran tersebut pasukan demak memperoleh kemenangan gemilang. Runtuhlah kerajaan mojopahit. Ketika sunan ngundung memasuki istana, dia menemukan banyak pusaka mojopahit yang ditinggalkan. Benda – benda itu dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam sebuah grobog, kemudian dibawa sebagai barang boyongan ke demak.
Di dalam perjalanan kembali ke demak grobog tersebut tertinggal di suatu tempat karena sesuatu sebab. Tempat itu kemudian disebut grobogan. Dengan demikian menurut cerita di atas ” grobog” berarti tempat menyimpan senjata/ barang pusaka
Peristiwa tersebut sangat mengesankan hati sunan ngundung. Sebagai kenangan, maka tempat tersebut di beri nama grobogan, yaitu tempat grobog.

Asal Nama Kota Surabaya, Jawa Timur

Lambang Surabaya


                                                           sura dan boyo
Setidaknya ada tiga keterangan tentang muasal nama Surabaya. Keterangan pertama menyebutkan, nama Surabaya awalnya adalah Churabaya, desa tempat menyeberang di tepian Sungai Brantas. Hal itu tercantum dalam prasasti Trowulan I tahun 1358 Masehi. Nama Surabaya juga tercantum dalam Pujasastra Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca. Dalam tulisan itu Surabaya (Surabhaya) tercantum dalam pujasastra tentang perjalanan pesiar pada tahun 1365 yang dilakukan Hayam Wuruk, Raja Majapahit.
Namun Surabaya sendiri diyakini oleh para ahli telah ada pada tahun-tahun sebelum prasasti-prasasti tersebut dibuat. Seorang peneliti Belanda, GH Von Faber dalam karyanya En Werd Een Stad Geboren (Telah Lahir Sebuah Kota) membuat hipotesis, Surabaya didirikan Raja Kertanegara tahun 1275, sebagai pemukiman baru bagi para prajuritnya yang telah berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M.
Versi berikutnya, nama Surabaya berkait erat dengan cerita tentang perkelahian hidup dan mati antara Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon, setelah mengalahkan tentara Tartar (Mongol), Raden Wijaya yang merupakan raja pertama Majapahit, mendirikan kraton di Ujung Galuh, sekarang kawasan pelabuhan Tanjung Perak, dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memimpin daerah itu. Lama-lama Jayengrono makin kuat dan mandiri karena menguasai ilmu Buaya, sehingga mengancam kedaulatan Majapahit.
Untuk menaklukkan Jayengrono, diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura. Adu kesaktian dilakukan di pinggir Sungai Kalimas dekat Paneleh. Perkelahian adu kesaktian itu berlangsung tujuh hari tujuh malam dan berakhir tragis, keduanya meninggal kehabisan tenaga.
Dalam versi lainnya lagi, kata Surabaya muncul dari mitos pertempuran antara ikan Suro (Sura) dan Boyo (Baya atau Buaya), perlambang perjuangan antara darat dan laut. Penggambaran pertarungan itu terdapat dalam monumen suro dan boyo yang ada dekat kebun binatang di Jalan Setail Surabaya
Versi terakhir, dikeluarkan pada tahun 1975, ketika Walikota Subaya Soeparno menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi Kota Surabaya. Ini berarti pada tahun 2005 Surabaya sudah berusia 712 tahun. Penetapan itu berdasar kesepakatan sekelompok sejarawan yang dibentuk pemerintah kota bahwa nama Surabaya berasal dari kata sura ing bhaya yang berarti keberanian menghadapi bahaya.

Asal Nama Kota JEPARA, Jawa Tengah

Asal nama Jepara berasal dari perkataan Ujung Para, Ujung Mara dan Jumpara yang kemudian menjadi Jepara, yang berarti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai daerah. Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M) mencatat bahwa pada tahun 674 M seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga yang juga disebut Jawa atau Japa dan diyakini berlokasi di Keling, kawasan timur Jepara sekarang ini, serta dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Ratu Shima yang dikenal sangat tegas. Jepara baru dikenal pada abad ke-XV (1470 M) sebagai bandar perdagangan yang kecil yang baru dihuni oleh 90-100 orang dan dipimpin oleh Aryo Timur dan berada dibawah pemerintahan Demak. Kemudian Aryo Timur digantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus (1507-1521). Pati Unus mencoba untuk membangun Jepara menjadi kota niaga. Pati Unus dikenal sangat gigih melawan penjajahan Portugis di Malaka yang menjadi mata rantai perdagangan nusantara. Setelah Pati Unus wafat digantikan oleh ipar Faletehan / Fatahillah yang berkuasa (1521-1536). Kemudian pada tahun 1536 oleh penguasa Demak yaitu Sultan Trenggono, Jepara diserahkan kepada anak dan menantunya yaitu Ratu Retno Kencono dan Pangeran Hadirin (suami). Namun setelah tewasnya Sultan Trenggono dalam Ekspedisi Militer di Panarukan Jawa Timur pada tahun 1546, timbulnya geger perebutan tahta kerajaan Demak yang berakhir dengan tewasnya Pangeran Hadiri oleh Aryo Penangsang pada tahun 1549.Kematian orang-orang yang dikasihi membuat Ratu Retno Kencono sangat berduka dan meninggalkan kehidupan istana untuk bertapa di bukit Danaraja. Setelah terbunuhnya Aryo Penangsang oleh Sutowijoyo, Ratu Retno Kencono bersedia turun dari pertapaan dan dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar NIMAS RATU KALINYAMAT.
Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat (1549-1579),Jepara berkembang pesat menjadi Bandar Niaga utama di Pulau Jawa, yang melayani eksport import. Disamping itu juga menjadi Pangkalan Angkatan Laut yang telah dirintis sejak masa Kerajaan Demak. Sebagai seorang penguasa Jepara, yang gemah ripah loh jinawi karena keberadaan Jepara kala itu sebagai Bandar Niaga yang ramai, Ratu Kalinyamat dikenal mempunyai jiwa patriotisme anti penjajahan. Hal ini dibuktikan dengan pengiriman armada perangnya ke Malaka guna menggempur Portugis pada tahun 1551 dan tahun 1574. Adalah tidak berlebihan jika orang Portugis saat itu menyebut sang Ratu sebagai “RAINHA DE JEPARA' SENORA DE RICA”, yang artinya Raja Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa dan kaya raya.
Serangan sang Ratu yang gagah berani ini melibatkan hamper 40 buah kapal yang berisikan lebih kurang 5.000 orang prajurit. Namun serangan ini gagal, ketika prajurit Kalinyamat ini melakukan serangan darat dalam upaya mengepung benteng pertahanan Portugis di Malaka, tentara Portugis dengan persenjataan lengkap berhasil mematahkan kepungan tentara Kalinyamat.Namun semangat Patriotisme sang Ratu tidak pernah luntur dan gentar menghadapi penjajah bangsa Portugis, yang di abad 16 itu sedang dalam puncak kejayaan dan diakui sebagai bangsa pemberani di Dunia.
Dua puluh empat tahun kemudian atau tepatnya Oktober 1574, sang Ratu Kalinyamat mengirimkan armada militernya yang lebih besar di Malaka. Ekspedisi militer kedua ini melibatkan 300 buah kapal diantaranya 80 buah kapal jung besar berawak 15.000 orang prajurit pilihan. Pengiriman armada militer kedua ini di pimpin oleh panglima terpenting dalam kerajaan yang disebut orang Portugis sebagai "“QUILIMO”.Walaupun akhirnya perang kedua ini yang berlangsung berbulan-bulan tentara Kalinyamat juga tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun telah membuat Portugis takut dan jera berhadapan dengan Raja Jepara ini, terbukti dengan bebasnya Pulau Jawa dari Penjajahan Portugis di abad 16 itu.
Sebagai peninggalan sejarah dari perang besar antara Jepara dan Portugis, sampai sekarang masih terdapat di Malaka komplek kuburan yang di sebut sebagai Makam Tentara Jawa. Selain itu tokoh Ratu Kalinyamat ini juga sangat berjasa dalam membudayakan SENI UKIR yang sekarang ini jadi andalan utama ekonomi Jepara yaitu perpaduan seni ukir Majapahit dengan seni ukir Patih Badarduwung yang berasal dari Negeri Cina.
Menurut catatan sejarah Ratu Kalinyamat wafat pada tahun 1579 dan dimakamkan di desa Mantingan Jepara, di sebelah makam suaminya Pangeran Hadirin. Mengacu pada semua aspek positif yang telah dibuktikan oleh Ratu Kalinyamat sehingga Jepara menjadi negeri yang makmur, kuat dan mashur maka penetapan Hari Jadi Jepara yang mengambil waktu beliau dinobatkan sebagai penguasa Jepara atau yang bertepatan dengan tanggal 10 April 1549 ini telah ditandai dengan Candra Sengkala TRUS KARYA TATANING BUMI atau terus bekerja keras membangun daerah.

Asal Nama KARIMUNJAWA
http://4.bp.blogspot.com/_P2K1lvLbM_Q/ScBoeYL04rI/AAAAAAAAAhA/FQI0k752FZg/s320/Mkm+nyamplng+%5B%5D.jpg
Sunan Nyamplungan merupakan tokoh cerita rakyat yang menarik tentang terjadinya nama Kepulauan Karimunjawa. Sunan Nyamplungan yang mempunyai nama asli Amir Hasan adalah putra Sunan Muria. Perkembangan kehidupan Amir Hasan dari kanak-kanak sampai dewasa selelu dimanjakan oleh Nyai Sunan Muria, walaupun perilaku Amir Hasan sehari-hari cenderung nakal. Melihat hal yang tidak menguntungkan terhadap diri Amir Hasan, Sunan Muria selalu menanamkan jiwa kedisiplinan dengan mengajarkan dasar-dasar agama Islam yang kuat, namun Amir Hasan cenderung pada kenakalan dan kemanjaannya sehingga menjadikan Sunan Muria dan Nyai Sunan Muria memutuskan untuk menitipkan Amir Hasan kepada pamannya, yaitu Sunan Kudus dengan harapan asuhan Sunan Kudus dapat diterima dan kelak menjadi orang yang baik dan soleh.
Selama dalam asuhan Sunan Kudus, Amir Hasan sudah mulai menunjukkan perubahan menjadi pemuda yang baik dan sangat taan melaksanakan ajaran/perintah Sunan Kudus. Melihat perkembangan yang demikian, Amir Hasan kemudian dikembalikan kepada Sunan Muria karena Sunan Kudus sudah merasa cukup membimbing dan mengajari berbagai ilmu khususnya mendalami ajaran agama Islam. Setelah menerima laporan dari Sunan Kudus, Sunan Muria menjadi sangat bahagia karena anaknya mau mematuhi ajaran orang tua, k emudian untuk melatih dan mencobanya diperintahkan oleh Sunan Muria agar Amir Hasan pergi ke salah satu pulau yang kelihatan dari puncak gunung Muria seperti kremun – kremun dengan disertai 2 orang abdi untuk menemani dan diberi bekal 2 biji buah nyamplung untuk ditanam dan berbagai macam barang antara lain : Mustaka Masjid yang saat ini masih ada dalam komplek makam beliau. Perjalanan Amir Hasan yang memakan waktu lama dengan menyebrang laut itupun akhirnya sampai di tempat yang dituju di sebuah pulau , kemudian Amir Hasan menetap disana dan pulau ini kelak bernama KARIMUNJAWA.
Pulau yang terlihat kremun – kremun dan masih merupakan kawasan kepulauan jawa , dipakai sebagai tempat tinggal Amir Hasan, terdapat beberapa pohon nyamplung, maka sampai sekarang masyarakat menyebut Amir Hasan dengan nama “ SUNAN NYAMPLUNGAN “

Asal Nama TELUKAWUR
Zaman dahulu di suatu desa ada sepasang suami istri yang hidup bahagia mereka saling mencintai satu dengan yang lainnya. Sang suami bernama Syeikh abdul aziz dan istri Den Ayu Roro Kuning, istrinya adalah murid dari Sunan Muria, yang mempunyai paras cantik sempurna bagai bidadari dari khayangan. Sementara itu suaminya adalah pria dari negeri timur yang ditugaskan oleh ayahnya untuk menyebarkan agama Islam di Jawa.
Selain bersyiar agama Syeikh Abdul Aziz dalam kesehariannya bekerja di ladang. Setiap kali ke ladang belum usai pekerjaannya dia selalu pulang, ini dilakukan sekedar untuk melihat istrinya yang cantik dan yang teramat sangat dia cintai, seakan dia tak mau sedetikpun terlewatkan untuk tidak melihat paras sang istri tercinta. Hal ini berulang-ulang dilakukan Syeikh Abdul Aziz, sehingga timbul ide dari istrinya, kalau hal tersebut dibiarkan terus maka pekerjaan di ladang akan terbengkalai. Akhirnya disuruhlah sang suami menggambar paras cantiknya untuk dibawa setiap kali ke ladang. Karena cintanya sang suamipun menyetujui ide dari sang istri. Setelah lukisan jadi, Syeikh Abdul Aziz selalu membawanya, sehingga tidak perlu pulang sebelum semua pekerjaannya selesai.
Suatu pagi yang cerah Syeikh Abdul Aziz melakukan kegiatan seperti biasa yaitu pergi ke ladang dan tak lupa dia membawa lukisan sang istri tercinta. Sesampainya di ladang diletakkanlah lukisan sang istri di atas keranjang yang biasa Syeikh Abdul Aziz bawa. Tanpa firasat apapun tiba-tiba angin datang dengan teramat kencangnya, sehingga mengakibatkan lukisan sang istri Syeikh Abdul Aziz terbang jauh yang akhirnya jatuh di depan halaman kerajaan yang rajanya bernama Joko Wongso. Lukisan itupun sampai ke tangan sang raja. Betapa kagetnya sang raja setelah melihat lukisan tersebut begitu cantik dan mempesonanya wanita yang ada dalam lukisan ini.
Kemudian tanpa pikir panjang raja Joko Wongso memerintahkan prajuritnya prajuritnya untuk mencari wanita yang ada dalam lukisan. Setelah dicari akhirnya ketemu dan dibawalah istri Syeikh Abdul Aziz ini ke kerajaannya Joko Wongso. Sesampainya di kerajaan tersebut Den Ayu Roro Kuning selalu sedih, murung,dan gelisah memikirkan suaminya yang pasti akan mencari dirinya. Benar saja saat ingin membawa lukisan istrinya, Syeikh Abdul Aziz mencari-cari lukisan tersebut, karena tidak ketemu suami Den Ayu Roro Kuning ini memutuskan untuk pulang ke rumah dan betapa terkejutnya dia mendapati istrinya tidak ada di rumah.
Suatu ketika dia mendengar kabar kalau istrinya dibawa oleh Raja Joko Wongso untuk dijadikan sebagai permaisurinya. Mendengar ini Syeikh Abdul Aziz kemudian pergi ke kerajaan Joko Wongso dengan cara mengamen/bermain kentrung. Sesampainya di halaman kerajaan, suami Den Ayu Roro Kuning ini menyanyi sambil memainkan kentrungnya. Dari dalam kabupaten sayup-sayup suara lagu dan musik inipun terdengar sampai ke telinga Den Ayu Roro Kuning. Setelah jelas terdengar dia tak ragu lagi bahwa itu adalah suara dari suaminya tercinta. Maka dia menyuruh abdinya untuk memanggil pengamen tersebut yaitu Syeikh Abdul Aziz tercinta.
Pertemuan inipun menggembirakan bagi keduanya, sehingga mereka sepakat menyusun rencana, bagaimana cara agar Den Ayu Roro Kuning tidak bisa dijadikan istri Joko Wongso. Rencana dirancang yakni, Den Ayu Roro Kuning mengajukan syarat pada sang Raja. Den Ayu Roro Kuning menghadap sang raja, istri Syeikh Abdil Aziz ini berkata “Baginda hamba siap dijadikan permaisuri tapi dengan syarat, carikan kerang (kijing) yang menari dan raja harus berpakaian ala nelayan lengkap dengan kepisnya”..
Karena hasrat untuk memperistri Den Ayu Roro Kuning yang sangat kuat maka Joko Wongso setuju tanpa rasa curiga sedikitpun atas syarat yang diajukan oleh istri Syeikh Abdul aziz ini. Berangkatlah sang Raja ke laut dengan harapan dapat memiliki Den Ayu Roro Kuning dengan meninggalkan pakaian kerajaannya. Sementara itu dalam kerajaannya, pasangan suami istri ini melaksanakan strategi yang sudah diatur. Syeikh Abdul Aziz berganti pakaian memakai baju kerajaan raja Joko Wongso dan berpura-pura jadi raja Joko Wongso. Kemudian dia memerintahkan pada prajurit dan rakyat kerajaan Joko Wongso untuk menyisir pantai karena ada mata-mata yang akan menghancurkan kerajaan. Mata-mata tersebut berpakaian nelayan lengkap dengan kepis nya.
Dalam perintahnya itu ada sebagian rakyatnya yang ragu (tidak percaya) tapi karena yang memerintahkan raja maka mereka berangkat untuk mencari mata-mata yang sebenarnya adalah rajanya sendiri. Pencarian membuahkan hasil, tanpa ditanya dulu prajurit dan rakyat ini mengeroyok sang nelayan. Dalam keadaan ini nelayan bilang Teluk,Teluk, (Takluk) tapi prajurit dan rakyat tidak mau tahu, sehingga membuat sang nelayan mati, sebelumnya ajalnya tiba sang nelayan sempat bicara ”AKU RAJAMU, AKU SUDAH BILANG TELUK, TELUK TAPI KALIAN TETAP NGAWUR”.
Ucapan inilah yang sekarang dijadikan nama tempat dimana Raja Joko Wongso dulunya didholimi dan di aniaya yaitu ”TELUKAWUR” Jasad JOKO WONGSO dimakamkan berdekatan dengan makam dan DEN AYU RORO KUNING. Makam tersebut ada di desa Telukawur, sedangkan Syeikh Abdul Azis dimakamkan di Desa Jondang yang kemudian Syeikh Abdul Azis dikenal dengan sebutan nama “SYEIKH JONDANG”.

Asal Nama WELAHAN
Desa welahan mula-mula berasal dari kata welah, yaitu mengisahkan perjalanan Sam Poo Kong menuju ke Sunan Muria dengan membawa kapal. Tujuan beliau adalah bersilaturahmi dan bertukar pengalaman. Dalam perbincangannya, ada kata-kata yang diungkap Sam Poo Kong yang menyinggung dan kurang bisa diterima oleh Sunan Muria akhirnya Sunan Muria nyamdani atau memberi ancaman kepada Sam Poo Kong. Dalam perjalanan pulang. Kapal yang ditumpangi mengalami kecelakaan sehingga awak kapalnya terpencar. Jangkar kapal yang pecah tersebut terdampar di Rembang, layarnya di daerah Keling dan welahnya ada di Welahan, tepatnya ada di sumur yang sekarang sudah ditempati penduduk keturunan cina yang bernama Pasue.
Bagi yang percaya sumur tersebut sampai saat ini masih dianggap keramat, bahkan bagi yang percaya air sumur tersebut dianggap dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sampai sekarang oleh pemilik rumah, dipergunakan sebagai tempat penjualan jamu dengan nama Nyah Pasue (sumur pusaka). Dalam musibah pecahnya kapal tersebut, Sam Poo Kong hilang dan kemudian muncul di daerah Gedung Batu Semarang.
Sebelum ada nama Welahan, daerah ini merupakan lautan yang luas sehingga dengan kejadian itu maka Sam Poo Tay Join (teman seperguruan Sam Poo Kong) memberi nama desa Welahan.

Ada kesalahan di dalam gadget ini